Resesi global yang diproyeksikan terjadi pada tahun 2025 merupakan salah satu kekhawatiran terbesar bagi banyak negara, terutama Indonesia. Berbagai lembaga ekonomi dunia telah memberikan sinyal akan terjadinya pelemahan pertumbuhan ekonomi global pada tahun tersebut. Sejumlah faktor, seperti ketidakpastian geopolitik, gangguan rantai pasok, serta dampak perubahan iklim pada sektor pertanian dan energi, turut menjadi pemicu. Kondisi ini tentu menuntut kewaspadaan tinggi dari pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Artikel ini akan membahas bagaimana pemerintah dapat menyusun strategi untuk menjaga stabilitas ekonomi dan meredam dampak resesi global.

1. Memperkuat Ketahanan Fiskal

Langkah pertama yang krusial dalam menghadapi ancaman resesi adalah memperkuat ketahanan fiskal negara. Ketahanan fiskal dapat dipahami sebagai kemampuan pemerintah untuk mengelola pendapatan dan pengeluaran negara secara efektif demi menjaga kesehatan anggaran. Saat ancaman resesi semakin nyata, beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Menjaga rasio utang terhadap PDB
    Pemerintah harus memantau rasio utang agar tetap berada pada batas yang aman. Pembiayaan defisit anggaran sebaiknya diupayakan dengan cara-cara yang tidak membebani negara secara berlebihan, seperti mengoptimalkan investasi domestik maupun asing, serta mencari skema pembiayaan yang berkelanjutan.

  2. Menyusun prioritas pengeluaran yang tepat
    Belanja negara perlu diarahkan pada sektor-sektor strategis yang mampu menstimulasi pertumbuhan ekonomi, seperti infrastruktur digital, pendidikan, dan kesehatan. Penghematan dapat dilakukan pada pos-pos yang kurang esensial, sehingga fokus belanja pemerintah bisa benar-benar efektif dalam menjaga stabilitas.

  3. Mengantisipasi penurunan pendapatan negara
    Pada saat resesi, penerimaan pajak cenderung menurun karena aktivitas ekonomi melemah. Oleh karena itu, pemerintah perlu merumuskan skema perpajakan yang adil sekaligus inovatif untuk mendorong kepatuhan wajib pajak, memperluas basis pajak, dan meminimalkan kebocoran penerimaan.

2. Mendorong Kebijakan Moneter yang Adaptif

Selain strategi fiskal, kebijakan moneter juga memiliki peran signifikan dalam menjaga stabilitas ekonomi. Bank sentral harus mampu membaca kondisi makroekonomi dan menetapkan suku bunga serta kebijakan moneter lain yang mendukung pertumbuhan. Pada situasi menjelang resesi, fleksibilitas kebijakan moneter menjadi kunci:

  1. Penyesuaian suku bunga
    Bank sentral perlu melakukan penyesuaian suku bunga acuan dengan cermat. Saat inflasi terlalu tinggi, pengetatan moneter dapat diterapkan untuk mengendalikan laju kenaikan harga. Namun, apabila ekonomi sedang terancam resesi, pelonggaran moneter bisa jadi solusi untuk mendongkrak likuiditas dan mendorong konsumsi maupun investasi.

  2. Intervensi nilai tukar
    Nilai tukar rupiah dapat tertekan dalam kondisi ketidakpastian global. Bank sentral, dalam hal ini Bank Indonesia, harus siap melakukan intervensi di pasar valas guna menjaga stabilitas nilai tukar. Stabilitas nilai tukar sangat penting untuk menjamin kelancaran perdagangan internasional dan mempertahankan kepercayaan investor asing.

  3. Kebijakan makroprudensial
    Kebijakan makroprudensial berfokus pada pengawasan sistem keuangan secara menyeluruh. Dengan memantau dan membatasi eksposur perbankan serta lembaga keuangan lainnya, risiko sistemik dapat ditekan. Kebijakan seperti pengetatan Loan to Value (LTV) untuk kredit properti atau rasio kewajiban pendanaan jangka pendek (Liquidity Coverage Ratio, LCR) yang lebih tinggi dapat membantu mencegah gejolak di sektor keuangan.

3. Diversifikasi Ekonomi dan Penguatan UMKM

Di tengah ancaman resesi, diversifikasi ekonomi menjadi sangat penting untuk menekan dampak negatif dari penurunan di sektor tertentu. Indonesia, dengan kekayaan sumber daya alam dan pasar domestik yang besar, seharusnya dapat memanfaatkan potensi ini untuk mengembangkan berbagai sektor:

  1. Peningkatan nilai tambah industri
    Ketergantungan pada komoditas mentah sering kali membuat perekonomian rentan terhadap fluktuasi harga global. Dengan membangun industri hilir, misalnya pengolahan hasil pertanian atau pertambangan, nilai ekspor akan meningkat dan memberikan perlindungan dari ketidakpastian harga pasar internasional.

  2. Pengembangan ekonomi digital
    Sektor digital telah terbukti menjadi motor pertumbuhan baru di berbagai negara. Penguatan infrastruktur internet, dukungan bagi startup, serta program pelatihan keterampilan digital bagi tenaga kerja lokal dapat memperluas kesempatan ekonomi dan menjaga ketahanan saat sektor tradisional melambat.

  3. Perkuat peran UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah)
    UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pemerintah harus memfasilitasi akses pendanaan yang lebih mudah dan murah bagi UMKM, serta memberikan pelatihan manajemen keuangan dan digitalisasi untuk meningkatkan daya saing mereka. Di tengah resesi, UMKM yang tangguh dapat menjaga tingkat konsumsi domestik dan mencegah lonjakan angka pengangguran.

4. Program Jaring Pengaman Sosial

Dampak resesi dapat dirasakan paling berat oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Tingkat pengangguran berpotensi naik jika terjadi penurunan kegiatan ekonomi, dan daya beli masyarakat akan tertekan. Maka, pemerintah perlu menyiapkan jaring pengaman sosial yang kuat, meliputi:

  1. Bantuan sosial tunai
    Bantuan langsung tunai (BLT) dan program subsidi tertentu (misalnya subsidi pangan, subsidi energi) bisa meringankan beban masyarakat menengah-bawah yang terdampak. Distribusi bantuan secara tepat sasaran melalui integrasi data kependudukan dan pemanfaatan teknologi informasi akan meminimalkan penyelewengan.

  2. Perlindungan terhadap pengangguran
    Skema asuransi pengangguran atau bantuan pencari kerja yang komprehensif dapat membantu masyarakat tetap memenuhi kebutuhan dasar mereka saat kehilangan pekerjaan. Selain itu, program pelatihan dan sertifikasi ulang perlu dikembangkan untuk memfasilitasi peralihan tenaga kerja ke sektor yang lebih dinamis.

  3. Pengembangan infrastruktur padat karya
    Proyek infrastruktur padat karya tidak hanya membangun asset nasional, tetapi juga menyediakan lapangan kerja masif. Ini penting untuk mengatasi pengangguran dan mempertahankan daya beli masyarakat di masa sulit.

5. Menjaga Kepercayaan Investor dan Pasar

Situasi resesi kerap ditandai dengan kepercayaan investor yang menurun. Investor akan cenderung menahan ekspansi bisnis atau memindahkan modal ke instrumen yang lebih aman. Untuk menjaga kepercayaan pasar:

  1. Kepastian Regulasi
    Pemerintah perlu menjamin stabilitas regulasi dan kebijakan ekonomi. Perubahan mendadak atau peraturan yang tumpang tindih bisa memicu ketidakpastian, sehingga merugikan iklim investasi.

  2. Kemudahan Berusaha
    Melanjutkan reformasi birokrasi dan deregulasi akan meningkatkan peringkat kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business) dan mendorong investasi domestik maupun asing. Sektor-sektor baru yang berpotensi tinggi, seperti energi terbarukan dan ekonomi kreatif, juga perlu terus didorong.

  3. Transparansi dan Akuntabilitas
    Penegakan hukum, pemberantasan korupsi, dan pemerintahan yang transparan akan meningkatkan kepercayaan investor. Langkah-langkah ini juga memberi sinyal bahwa pemerintah serius menjaga stabilitas ekonomi dan mencegah penyalahgunaan anggaran.

6. Peran Diplomasi Ekonomi dan Kerja Sama Internasional

Terakhir, namun tidak kalah penting, ialah memperkuat kerja sama internasional. Dalam era globalisasi, resesi tidak dapat dihadapi secara terpisah. Indonesia perlu menjalin kemitraan yang erat dengan negara-negara tetangga maupun organisasi internasional:

  1. Perjanjian dagang dan investasi
    Dengan menandatangani perjanjian dagang bebas (FTA) atau kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA), Indonesia dapat membuka pasar baru bagi produk ekspor nasional. Hal ini mengurangi ketergantungan pada satu atau dua pasar utama dan membantu stabilisasi neraca perdagangan.

  2. Kolaborasi dalam penanganan krisis
    Kerja sama dengan lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia, IMF, dan ADB dapat memberikan akses pembiayaan darurat atau bantuan teknis yang dibutuhkan untuk meredam dampak resesi.

  3. Pertukaran teknologi dan pengetahuan
    Dalam jangka panjang, kolaborasi riset dan pengembangan dengan negara lain akan membantu Indonesia menguasai teknologi mutakhir di berbagai sektor. Hal ini akan meningkatkan daya saing nasional dan mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Kesimpulan

Resesi 2025 menjadi tantangan besar yang memerlukan respons cepat dan tepat dari pemerintah. Kunci utama berada pada kemampuan negara dalam menyusun kebijakan fiskal dan moneter yang adaptif, memperkuat diversifikasi ekonomi, melindungi sektor UMKM, dan menyediakan jaring pengaman sosial yang tangguh. Tidak kalah penting, menjaga kepercayaan investor melalui kepastian regulasi dan transparansi pemerintahan juga menjadi fondasi stabilitas ekonomi di tengah badai resesi. Dengan kombinasi strategi di atas serta kolaborasi yang erat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, Indonesia akan memiliki ketahanan yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan ekonomi global dan tetap tumbuh secara berkelanjutan.